4 Tahapan Perkembangan Emosional Anak Umur 6-12 Tahun

Ka Isanta – Emosi anak dapat dilihat dari kemampuannya dalam mengenali,  mengendalikan emosi yang  sedang dirasakan. Usia balita lebih sering meluapkan emosi dengan cara menangis, marah hingga melakukan tindakan seperti memukul. Tindakan ini menunjukkan anak belum mampu mengontrol emosinya dengan baik. Kenali tahapan perkembangan emosional anak usia 6-12 tahun di bawah ini.

perkembangan emosional anak

1. Usia 6 Tahun

Emosi anak usia ini akan cepat berubah-ubah meski perkembangannya semakin matang. Mudah dalam memahami segala hal yang didapatkan dari emosi yang dimilikinya. Pengaruh lingkungan dapat mengubah emosi dengan mudah dari bahagia menjadi sedih atau sebaliknya. Anak akan siap memasuki tahap remaja dan memiliki rasa berhasil saat menguasai sebuah keterampilan.

2. Usia 7-8 Tahun

Usia ini mulai belajar mengendalikan diri untuk memahami emosi yang dirasakan. Mulai terfokus dan memperhatikan hal-hal yang sifatnya eksternal. Mulai mengerti apa yang diinginkannya yang berharap semuanya akan dituruti. Emosi mulai stabil dan munculnya rasa empati, rasa malu dan bangga terhadap diri sendiri dan orang lain. Tidak hanya memahami perasaan sendiri, namun juga orang lain di sekitarnya.

3. Usia 9-10 Tahun

Anak sudah bisa mencoba mengendalikan emosi di berbagai waktu dan kondisi. Adanya empati yang kuat yang menyebabkan lebih peka terhadap perasaan orang lain. Mulai  sering merasakan takut, khawatir, stress terkait pelajaran dan nilai yang didapatkannya di sekolah. Lebih mampu dalam menangani konflik yang dihadapi. Kondisi ini memancing anak untuk mengenali lebih jauh tentang lingkungan di sekitarnya.

4. Usia 11-12 Tahun

Perkembangan emosi anak lebih banyak terbentuk saat di sekolah. Anak-anak akan belajar dalam beradaptasi dari kelompok belajarnya yang mengembangkan keterampilan sosialnya. Memahami aturan dengan teman permainannya dan belajar disiplin untuk mempelajari materi-materi tertentu di sekolah.

Perkembangan emosional anak di usia 12 tahun lebih matang dan mampu memahami norma-norma yang berlaku di lingkungannya. Mulai lebih luwes dalam menjalankan aktivitasnya, tidak kaku saat masih menjadi anak-anak.

Mulai bisa menjadi penilai baik dan buruk yang disesuaikan dengan keadaan serta situasi yang ada. Bila perkembangan emosional tidak berjalan dengan baik, akan muncul keraguan pada setiap diri anak yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangannya.

, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published.